Eksplorasi Konsep Modul 2.3 - 2.1 Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan
- Senin, 28 Oktober 2024
- Administrator
- 0 komentar
Pengantar
Bapak/Ibu calon guru penggerak,
Saat ini kita berada pada tahap eksplorasi konsep bagian pertama. Pada tahap ini kita akan bereksplorasi secara mandiri untuk memahami konsep coaching secara umum dan konsep coaching dalam dunia pendidikan. Mengapa calon guru penggerak memerlukan pemahaman mengenai coaching akan dijelaskan pada bagian ini. Definisi coaching dan perbedaannya dengan metode pengembangan diri lainnya juga akan didiskusikan. Terakhir, konsep coaching dalam dunia pendidikan juga akan dibahas.
Supervisi Akademik
Bapak/Ibu calon guru penggerak,
Selain menyiapkan diri kita sebagai pemimpin pembelajaran, program Pendidikan Guru Penggerak juga menyiapkan kita untuk menjadi seorang kepala sekolah. Sebagai kepala sekolah, tentunya tidak akan terlepas dengan tugas supervisi akademik. Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu:
Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang:
- interaktif;
- inspiratif;
- menyenangkan;
- menantang;
- memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif; dan
- memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik.
Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita memastikan bahwa supervisi akademik yang kita jalankan benar-benar berfokus pada proses pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam standar proses tersebut.
Selain bertujuan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid, supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah sebagaimana tertuang dalam standar tenaga kependidikan pada Standar Nasional Pendidikan pasal 20 ayat 2:
Kriteria minimal kompetensi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong ruang perbaikan dan pengembangan diri guru di sekolahnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kepala sekolah seperti apakah yang dapat mendorong kita sebagai warga sekolah untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakan pada murid? Jawabannya adalah pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Dalam hal ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang diawali dengan paradigma berpikir yang memberdayakan. Pendekatan dengan paradigma berpikir yang memberdayakan mutlak diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching sebagaimana Whitmore (2003) ungkapkan bahwa coaching adalah kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya.
Sejalan dengan hal ini, dengan adanya program Pendidikan Guru Penggerak ini, kita diharapkan menjadi supervisor atau kepala sekolah yang memiliki paradigma berpikir dan keterampilan coaching dalam rangka pengembangan diri dan rekan sejawat. Untuk lebih jelasnya, mari simak penjelasan mengenai konsep coaching secara umum dan konsep coaching dalam konteks sekolah pada dan kaitannya dengan peran kita sebagai kepala sekolah atau supervisor.
2.1.1 Konsep Coaching secara Umum
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”
Video berikut ini memberi pengetahuan tentang apa itu coaching, silakan disimak dengan seksama.
Dari beberapa definisi yang telah disebutkan, kita melihat ada elemen-elemen penting yang menjadikan sebuah proses itu disebut sebagai coaching.
Untuk itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Coaching adalah proses yang dapat membantu individu atau kelompok mencapai tujuannya.
Coaching dapat dilakukan dalam berbagai konteks serta melibatkan beberapa elemen tertentu seperti :
- Tujuan
- Hubungan
- Dukungan
- Bimbingan
- Umpan Balik
- Kepercayaan
- Keterbukaan
- Rasa hormat
ya, saya pernah menerapkan beberapa prinsip coaching kepada murid ataupun teman sejawat. Berikut beberapa contoh yang dilakukan :
Kepada murid :
- Membantu murid saya menetapkan tujuan belajarnya sendiri
- Memberi dukungan dan bimbingan kepada murid untuk mencapai tujuan mereka
Kepada Rekan sejawat
- Membantu rekan sejawat mengembangkan keterampilan mengajar mereka
- Memberi dukungan dan bimbingan kepada rekan sejawat untuk meningkatkan kinerjanya
Metode Pengembangan Diri
Selain coaching, ada beberapa metode pengembangan diri yang lain yang bisa jadi sudah kita praktikan selama ini di sekolah yaitu mentoring, konseling, fasilitasi dan training. Agar lebih memahami konsep coaching secara lebih mendalam, ada baiknya kita juga menyelami perbedaan peran coaching dengan metode-metode pengembangan diri tersebut. Untuk mengetahui perbedaan peran tersebut, mari kita simak terlebih dahulu definisi dari masing-masing metode pengembangan diri tersebut:
- Definisimentoring
Stone (2002) mendefinisikan mentoring sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya. Sedangkan Zachary (2002) menjelaskan bahwa mentoring memindahkan pengetahuan tentang banyak hal, memfasilitasi perkembangan, mendorong pilihan yang bijak dan membantu mentee untuk membuat perubahan.
- Definisi konseling
Gibson dan Mitchell (2003) menyatakan bahwa konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Sementara itu, Rogers (1942) dalam Hendrarno, dkk (2003:24), menyatakan bahwa konseling merupakan rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang tujuannya memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
- Definisi Fasilitasi
Shwarz (1994) mendefinisikan fasilitasi sebagai sebuah proses dimana seseorang yang dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok, secara substantif berdiri netral, dan tidak punya otoritas mengambil kebijakan, melakukan intervensi untuk membantu kelompok memperbaiki cara-cara mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai masalah, serta membuat keputusan, agar bisa meningkatkan efektivitas kelompok itu.
- DefinisiTraining
Training menurut Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003) merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.
Dari beberapa definisi yang telah disebutkan, untuk menyelami perbedaan peran coaching dengan metode-metode pengembangan diri tersebut,
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Mentoring adalah proses berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seseorang yang lebih berpengalaman (Mentor) kepada seseorang yang berpengalaman (mentee). Mentoring dapat dilakukan dalam berbagai konteks seperti pendidikan, pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tujuan mentoring adalah untuk membantu mentee berkembang dan mencapai tujuannya.
Coaching adalah proses membantu individu atau kelompok mencapai tujuan mereka dengan memberikan dukungan, bimbingan dan umpan balik. Coaching dapat dilakukan dalam berbagai konteks seperti olahraga, bisnis, pendidikan dan kehidupan pribadi. Tujuan Coaching adalah untuk membantu individu atau kelompok untuk meningkatkan kinerja, mengembangkan keterampilan atau pencapaian target tertentu.
Konseling adalah proses untuk membantu individu untuk mengatasi masalah pribadi atau profesional. Konselor dapat memberikan dukungan, bimbingan dan umpan balik kepada klien mereka. Tujuan Konseling adalah untuk membantu klien untuk memahami diri mereka sendiri, mengatasi masalah mereka dan membuat perubahan positif dalam hidup mereka.
Training adalah proses untuk memberi pengatahuan dan keterampilan kepada individu atau kelompok. Training dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti seminar, workshop dan pelatihan. Tujuan training adalah membantu individu atau kelompok untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kinerja.
Fasilitasi adalah proses memfasilitasi pertemuan atau diskusi. Fasilitator membantu peserta untuk tetap fokus pada tujuan pertemuan, memastikan bahwa semua peserta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar dan berbagi.
Mentoring, coaching, konseling, training dan fasilitasi memiliki tujuan dan fungsi yang berbeda namun memberi manfaat bagi individu dan kelompok yang terlibat.
Coach : saya pernah menjadi coach bagi murid saya yang mengalami kesulitan menyelesaikan tugas informatika. Saya pernah menjadi coach bagi murid yang memiliki bakat desain grafis dan multimedia untuk mengikuti lomba FLS2N.
Mentor : saya pernah menjadi mentor bagi murid baru pindahan ke sekolah saya, membantu murid baru tersebut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, memperkenalkan murid dengan teman baru dan membantu mengatasi masalah yang dihadapi untuk dapat beradaptasi dengan baik.
Konselor : Saya pernah menjadi konselor bagi murid yang mengalami masalah keluarga. Saya mendengarkan cerita murid tersebut, menberi dukungan dan bimbingan dan membantu murid untuk mencari solusi atas masalah tersebut sehingga murid tersebut dapat mengatasi masalahnya keluarganya dengan lebih baik.
Fasilitator : Saya pernah menjadi fasilitator dalam sebuah diskusi kelompok tentang dampak sosial informatika. saya membantu peserta untuk tetap focus pada tujuan diskusi, memastikan semua peserta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar berbagi.
Trainer : saya pernah menjadi trainer dalam pelatihan tentang keterampilan menggunakan perangkat komputer untuk guru, keterampilan menggunakan media digital untuk guru. Saya memberi pengetahuan dan keterampilan kepada peserta pelatihan. Peserta pelatihan akhirnya dapat meningkatkan keterampilannya dalam memanfaatkan media digital dan komputer dalam pembelajaran mereka.
Tabel Perbedaan antara Coaching, Mentoring, Konseling, Fasilitasi dan Training
Bapak/Ibu calon guru penggerak,
Silakan menyimak perbedaan coaching pada video berikut ini.
Untuk lebih jelasnya lagi, perbedaan-perbedaan peran antara coaching dengan mentoring, konseling, fasilitasi dan training dapat dirangkum dalam tabel berikut:

Dari tabel tersebut, sekarang kita lebih memahami perbedaan peran dari masing-masing metode pengembangan diri tersebut. Tentunya sebagai guru kita telah melakukan peran-peran tersebut. Kita juga sudah mengetahui peran apa yang bisa kita pilih ketika menghadapi berbagai situasi baik ketika menghadapi murid atau rekan sejawat. Berikut kita akan menyimak bagaimana coaching diterapkan dalam konteks pendidikan.
2.1.2 Coaching dalam Konteks Pendidikan
Bapak /bu Calon Guru Penggerak,
Mari kita bersama-sama mempelajari coaching dalam konteks pendidikan.
Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.
Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun). Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.
Paradigma berpikir Among
Perhatikan tabel berikut ini

Dalam ruang kemerdekaan belajar, proses coaching juga merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak coach dan coachee. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat coachee melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga mendorong coachee berpikir secara kritis dan mendalam yang bermuara pada coachee dapat menemukan kekuatan diri dan potensinya untuk terus dikembangkan secara berkesinambungan atau menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat.
Pengembangan kekuatan dan potensi diri inilah yang menjadi tugas seorang coach (pendidik/pamong). Apakah pengembangan diri seorang coachee cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang coachee. Pengembangan diri baik seorang coach atau coachee dapat dimaksimalkan dengan proses coaching.
Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi diri sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coachee untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.
Penutup
Terima Kasih Bapak/Ibu sudah mengikuti sesi pembelajaran Eksplorasi Konsep mengenai Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan. Mari kita bawa pemahaman yang sudah kita dapatkan pada bagian ini untuk masuk ke bagian berikutnya, yaitu Eksplorasi Konsep Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching.